Siang itu, di ruangan lab komputer sekolah, aku
teramat gembira mengetahui aku lolos SNMPTN 2017. Aku riang bukan main. Langsung kukabari
orangtuaku, begitupun seniorku yang selama ini telah membantu mengarahkan.
Rasa-rasanya hari itu menjadi milikku. Aku merasa akulah yang paling bahagia,
tanpa ada rasa cemas esok akan seperti apa.
Ya, kukira perjalananku akan mulus-mulus saja tanpa
hambatan. Tapi nyatanya tidak. Aku terkendala ekonomi keluarga. Sejak awal, bisa
kuliah di perguruan tinggi memang hal yang aku impikan. Meski sadar bahwa bapak
hanyalah buruh serabutan dan emak hanya seorang ibu rumah tangga.
Saat hendak daftar ulang mahasiswa baru, aku
tak mampu membayar besaran UKT. Lantas aku mengajukan banding ke pihak dekanat,
meminta keringanan biaya. Namun hasilnya nihil. Jeritanku tak didengar. Sungguh
teramat pedih.
Setelah berdiskusi, orang tua sepakat untuk
tetap mendukungku lanjut kuliah. Emak dan bapak mencari pinjaman sana-sini agar
bisa bayar UKT.
Sementara aku, berusaha keras mencari peluang
beasiswa.
Bidikmisi yang semula menjadi harapanku, pupus
karena golongan UKT-ku tak memenuhi syarat untuk bisa mendaftar Bidikmisi kala
itu.
Hingga suatu ketika, Allah pertemukan aku
dengan teman baru yang memperkenalkan beasiswa Etos. Aku daftar, mengikuti
seleksi, dan akhirnya diterima. Asaku kembali tumbuh, merekah bak mawar merah
di musim semi.
Sejak saat itu, setidaknya aku tidak lagi
khawatir memikirkan biaya UKT yang harus dibayarkan setiap semesternya. Akupun
tinggal di asrama yang sudah disediakan untuk kurun waktu dua tahun.
Mendapatkan bantuan uang saku, dan yang tak kalah penting ialah mendapatkan
pembinaan secara rutin.
Memasuki tahun pertama kuliah, aku masih harus
beradaptasi dengan segala keadaan.
Di awal-awal masuk kampus, aku mulai mencari
uang tambahan. Aku menjadi reseller, berjualan makanan seperti makaroni, kwetiaw
dan sosis goreng yang dimasak oleh kakak tingkatku yang juga tinggal di asrama.
Lumayan. Sehari aku bisa dapat 10-20 ribu rupiah, ya walaupun jualannya hanya
2-3 kali dalam sepekan.
Berselang beberapa bulan kemudian, kakak
tingkatku sudah jarang masak makanan-makanan yang bisa kujual kembali. Mungkin
karena kesibukannya yang mulai padat. Untuk sementara akupun tidak berjualan.
Tak dapat uang tambahan.
Suatu pagi aku menelpon emakku. Bertukar kabar
antara aku yang hidup di perantauan dengan keluarga yang tak pernah berhenti
mendoakan. Emak mengabari bahwa kondisi keuangan di rumah sedang sangat sulit. Bapak
sama sekali belum mendapatkan pekerjaan, pun kakakku yang sudah lama menganggur
di rumah. Sedangkan setiap harinya adik-adikku terus merengek meminta jajan. Emak
meminta maaf tidak bisa mengirimkan aku uang
untuk bekal hidup.
“Nggapapa, Mak.” Kataku di balik sambungan
telepon.
Lantas aku memutar otak untuk mencari ide
bagaimana caranya agar aku bisa mandiri. Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan
tambahan rupiah supaya tidak membebani keluargaku lagi.
Akhir bulan, sisa uang saku hanya tinggal
beberapa puluh ribu. Tidak cukup untuk ongkos bolak-balik pergi ke kampus yang
jaraknya cukup jauh dari asrama, tidak cukup untuk bertahan beberapa hari ke
depan.
Kutemukan ide untuk memutar roda perekonomian.
Sepulang kuliah aku pergi ke pasar Ciputat, membeli sayur-sayuran dan
bahan-bahan lain untuk kujadikan gorengan. Malamnya aku siapkan. Paginya aku
masak. Kadang aku membuat bakwan, kadang roti goreng. Lalu kubawa ke kampus
untuk dijual ke teman-temanku.
Hal tersebut kulakukan berulang-ulang. Pernah selama
sepekan penuh tak pernah tak jualan. Tidak jarang juga aku merasa kelelahan.
Suatu malam aku menangis, terisak dan amat
sesak. Aku meratapi betapa pedihnya perjuangan. Pikiran gelapku menuntun pada
rasa iri terhadap teman-teman kelasku yang hidupnya serba enak, yang tak perlu
memikirkan esok punya ongkos atau tidak untuk berangkat ke kampus. Tangisku semakin
menjadi, mataku semakin sembab. Lalu teman-teman sekamarku mendengar
tangisanku. Mereka mencoba menenangkan. Membuat tangisku reda.
Sejak malam itu, aku mulai berdamai dengan
keadaan. Menyadari bahwa perjuangan memang melelahkan. Dan memang cara itu yang
bisa ditempuh untuk menggapai kesuksesan.
Serpihan semangat kukumpulkan kembali. Hari-hari
kumaknai penuh arti.
Sampailah aku di semester tiga. Terbesit
dibenakku untuk mencoba merintis bisnis jangka panjang.
Agustus 2018. Aku menekuni dunia handmade yang
sudah aku senangi sejak kecil. Kutemukan inspirasi dari beberapa video di salah
satu channel youtube. Aku eksekusi. Mau
buat apa? Buket bunga flanel. Bermodalkan belasan ribu rupiah dari sisa uang
sakuku, aku melakukan trial and error dari bahan-bahan yang sudah aku beli.
Setelah dirasa sudah layak jual, aku promosikan ke teman-teman terdekat di
Etos.
Oktober 2018. Meskipun sudah mulai produksi
sejak Agustus, tetapi baru pada Oktober ini aku berani launching untuk
dimunculkan ke publik. Awalnya tak punya brand, tapi pembina di asrama
menyarankan untuk punya. Baiklah. Kuberi nama “Nuren’s Flower” dan rilis di
instagram dengan nama akun @nurensflower.
Setiap
ada acara wisuda di kampusku, aku selalu membuka lapak. Menjajakan barang daganganku
di sekitaran trotoar depan kampus.
Atas izin Allah, bisnis ini kian hari kian berkembang.
Hingga tulisan ini dipublish, sudah ada 6 jenis produk di Nuren’s Flower yaitu
buket bunga flanel, buket boneka wisuda, buket makanan, flower frame, flower
garland, dan bridal shower yang biasa digunakan untuk backdrop acara
tunangan/lamaran/pernikahan.
Kedepannya aku berharap semoga dari bisnis ini
aku bisa memberdayakan umat dan bisa membentangkan kebaikan yang lebih luas.
Karena aku sadar, aku dan bisnisku ini tumbuh dari kebaikan hati para penderma,
dari dana zakat yang dihimpun oleh Dompet Dhuafa.

Maa syaa Allah sukses selalu neniiii in syaa Allah nurens flowers go nasional dan internasional 🙏🏻🤩
BalasHapusAamiin... Makasih mbak adeee.. moga mbak juga sukses ya fiddunya wal akhiroh
BalasHapusMaa syaa allah, setiap hamba mana tau akan begini akan begitu, lagi lagi manusia hanya berencana dan Dia yg berkehendak. Dan pastinya kehendakNya lah yg terbaik. Sebuah perjalanan yang merasa terhormat aku menyaksikan yaitu perjalanan nurens flower :')
BalasHapusBarakallahufiik!