Sabtu, 23 Mei 2020

#BerawaldariZakat Hidupku Lebih Baik



Siang itu, di ruangan lab komputer sekolah, aku teramat gembira mengetahui aku lolos SNMPTN 2017. Aku riang bukan main. Langsung kukabari orangtuaku, begitupun seniorku yang selama ini telah membantu mengarahkan. Rasa-rasanya hari itu menjadi milikku. Aku merasa akulah yang paling bahagia, tanpa ada rasa cemas esok akan seperti apa.

Ya, kukira perjalananku akan mulus-mulus saja tanpa hambatan. Tapi nyatanya tidak. Aku terkendala ekonomi keluarga. Sejak awal, bisa kuliah di perguruan tinggi memang hal yang aku impikan. Meski sadar bahwa bapak hanyalah buruh serabutan dan emak hanya seorang ibu rumah tangga.

Saat hendak daftar ulang mahasiswa baru, aku tak mampu membayar besaran UKT. Lantas aku mengajukan banding ke pihak dekanat, meminta keringanan biaya. Namun hasilnya nihil. Jeritanku tak didengar. Sungguh teramat pedih.

Setelah berdiskusi, orang tua sepakat untuk tetap mendukungku lanjut kuliah. Emak dan bapak mencari pinjaman sana-sini agar bisa bayar UKT.

Sementara aku, berusaha keras mencari peluang beasiswa.

Bidikmisi yang semula menjadi harapanku, pupus karena golongan UKT-ku tak memenuhi syarat untuk bisa mendaftar Bidikmisi kala itu.

Hingga suatu ketika, Allah pertemukan aku dengan teman baru yang memperkenalkan beasiswa Etos. Aku daftar, mengikuti seleksi, dan akhirnya diterima. Asaku kembali tumbuh, merekah bak mawar merah di musim semi.

Sejak saat itu, setidaknya aku tidak lagi khawatir memikirkan biaya UKT yang harus dibayarkan setiap semesternya. Akupun tinggal di asrama yang sudah disediakan untuk kurun waktu dua tahun. Mendapatkan bantuan uang saku, dan yang tak kalah penting ialah mendapatkan pembinaan secara rutin.

Memasuki tahun pertama kuliah, aku masih harus beradaptasi dengan segala keadaan.

Di awal-awal masuk kampus, aku mulai mencari uang tambahan. Aku menjadi reseller, berjualan makanan seperti makaroni, kwetiaw dan sosis goreng yang dimasak oleh kakak tingkatku yang juga tinggal di asrama. Lumayan. Sehari aku bisa dapat 10-20 ribu rupiah, ya walaupun jualannya hanya 2-3 kali dalam sepekan.

Berselang beberapa bulan kemudian, kakak tingkatku sudah jarang masak makanan-makanan yang bisa kujual kembali. Mungkin karena kesibukannya yang mulai padat. Untuk sementara akupun tidak berjualan. Tak dapat uang tambahan.

Suatu pagi aku menelpon emakku. Bertukar kabar antara aku yang hidup di perantauan dengan keluarga yang tak pernah berhenti mendoakan. Emak mengabari bahwa kondisi keuangan di rumah sedang sangat sulit. Bapak sama sekali belum mendapatkan pekerjaan, pun kakakku yang sudah lama menganggur di rumah. Sedangkan setiap harinya adik-adikku terus merengek meminta jajan. Emak meminta maaf tidak bisa mengirimkan aku  uang untuk bekal hidup.

“Nggapapa, Mak.” Kataku di balik sambungan telepon.

Lantas aku memutar otak untuk mencari ide bagaimana caranya agar aku bisa mandiri. Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan tambahan rupiah supaya tidak membebani keluargaku lagi.

Akhir bulan, sisa uang saku hanya tinggal beberapa puluh ribu. Tidak cukup untuk ongkos bolak-balik pergi ke kampus yang jaraknya cukup jauh dari asrama, tidak cukup untuk bertahan beberapa hari ke depan.

Kutemukan ide untuk memutar roda perekonomian. Sepulang kuliah aku pergi ke pasar Ciputat, membeli sayur-sayuran dan bahan-bahan lain untuk kujadikan gorengan. Malamnya aku siapkan. Paginya aku masak. Kadang aku membuat bakwan, kadang roti goreng. Lalu kubawa ke kampus untuk dijual ke teman-temanku.

Hal tersebut kulakukan berulang-ulang. Pernah selama sepekan penuh tak pernah tak jualan. Tidak jarang juga aku merasa kelelahan.

Suatu malam aku menangis, terisak dan amat sesak. Aku meratapi betapa pedihnya perjuangan. Pikiran gelapku menuntun pada rasa iri terhadap teman-teman kelasku yang hidupnya serba enak, yang tak perlu memikirkan esok punya ongkos atau tidak untuk berangkat ke kampus. Tangisku semakin menjadi, mataku semakin sembab. Lalu teman-teman sekamarku mendengar tangisanku. Mereka mencoba menenangkan. Membuat tangisku reda.  

Sejak malam itu, aku mulai berdamai dengan keadaan. Menyadari bahwa perjuangan memang melelahkan. Dan memang cara itu yang bisa ditempuh untuk menggapai kesuksesan.

Serpihan semangat kukumpulkan kembali. Hari-hari kumaknai penuh arti.

Sampailah aku di semester tiga. Terbesit dibenakku untuk mencoba merintis bisnis jangka panjang.

Agustus 2018. Aku menekuni dunia handmade yang sudah aku senangi sejak kecil. Kutemukan inspirasi dari beberapa video di salah satu channel youtube.  Aku eksekusi. Mau buat apa? Buket bunga flanel.  Bermodalkan belasan ribu rupiah dari sisa uang sakuku, aku melakukan trial and error dari bahan-bahan yang sudah aku beli. Setelah dirasa sudah layak jual, aku promosikan ke teman-teman terdekat di Etos.

Oktober 2018. Meskipun sudah mulai produksi sejak Agustus, tetapi baru pada Oktober ini aku berani launching untuk dimunculkan ke publik. Awalnya tak punya brand, tapi pembina di asrama menyarankan untuk punya. Baiklah. Kuberi nama “Nuren’s Flower” dan rilis di instagram dengan nama akun @nurensflower.

Setiap ada acara wisuda di kampusku, aku selalu membuka lapak. Menjajakan barang daganganku di sekitaran trotoar depan kampus.

Atas izin Allah, bisnis ini kian hari kian berkembang. Hingga tulisan ini dipublish, sudah ada 6 jenis produk di Nuren’s Flower yaitu buket bunga flanel, buket boneka wisuda, buket makanan, flower frame, flower garland, dan bridal shower yang biasa digunakan untuk backdrop acara tunangan/lamaran/pernikahan.

Kedepannya aku berharap semoga dari bisnis ini aku bisa memberdayakan umat dan bisa membentangkan kebaikan yang lebih luas. Karena aku sadar, aku dan bisnisku ini tumbuh dari kebaikan hati para penderma, dari dana zakat yang dihimpun oleh Dompet Dhuafa.


3 komentar:

  1. Maa syaa Allah sukses selalu neniiii in syaa Allah nurens flowers go nasional dan internasional 🙏🏻🤩

    BalasHapus
  2. Aamiin... Makasih mbak adeee.. moga mbak juga sukses ya fiddunya wal akhiroh

    BalasHapus
  3. Maa syaa allah, setiap hamba mana tau akan begini akan begitu, lagi lagi manusia hanya berencana dan Dia yg berkehendak. Dan pastinya kehendakNya lah yg terbaik. Sebuah perjalanan yang merasa terhormat aku menyaksikan yaitu perjalanan nurens flower :')
    Barakallahufiik!

    BalasHapus