Selasa, 20 Agustus 2019

Jatuh


Bukan kali pertama aku mengajar anak-anak Taman Belajar Al-Qur’an di sebuah toko yang tak begitu luas dan tak sebanding dengan jumlah muridnya. Aku sudah beberapa bulan mengajar disana. Namun, sore tadi, sesuatu yang mengejutkan telah terjadi. Sebuah peristiwa yang mungkin tak akan pernah bisa kulupa sama sekali.

Awalnya, aku biasa saja dalam suasana pengajian tadi sore. Lama-lama, kebisingan, keributan dan kegaduhan di ruangan ini mulai terendus. Anak-anak bermain memenuhi sudut ruangan. Mereka sangat hiperaktif walau ada juga yang memilih berdiam diri sambil duduk manis di depan meja masing-masing. Suasana semakin menjadi-jadi saat mereka yang hiperaktif berlarian kesana kemari, saling meledek dengan teman sendiri, sesekali mengeluarkan kata-kata kotor dan kasar, dan yang lebih parah adalah bertengkar melukai fisik.

Ah tentu saja aku tidak tinggal diam! Kau pikir aku guru macam apa yang tega membiarkan murid-muridnya terus menerus seperti itu? Meskipun latar belakang pendidikanku bukanlah keguruan, tapi aku banyak belajar dari seniorku yang sudah bertahun-tahun mengajar di toko ini.

Aku mulai melerai mereka. Aku menyuruh mereka untuk beristighfar dan saling bermaafan; sebuah ajaran dari seniorku.

Mereka berdamai.

Aku menghela napas dalam-dalam. Sedikit kewalahan menghadapi mereka.
Lalu aku kembali duduk ke tempatku. Satu per satu anak-anak membaca Al-Qur’an bersamaku. Mereka kusuruh mengantri, menunggu untuk dipanggil olehku agar mendapat giliran untuk membaca.

Tak sabar dalam mengantri, sebagian mereka membuat keributan lagi.

Ahza, bocah 6 tahun itu ternyata diam-diam menaiki etalase yang berbahan kaca di sudut toko ini. Dia mengayun-ayunkan kaki di atas etalase . Lalu tingkah Ahza diikuti dua temannya: Alvin dan Danis.

Aku terkejut melihat tingkah bocah-bocah itu.

Dengan pelan aku merayu mereka untuk turun, bahaya jikalau tetap berada di atas sana.

Mereka tidak mau menuruti perkataanku, keukeuh untuk tetap disana.

Fokusku pecah. Aku harus berhasil membuat mereka turun, namun satu sisi aku harus membimbing anak-anak yang lain untuk membaca. Belum lagi sorak teriakan satu atau dua dari mereka yang menuntut untuk segera mendapat giliran membaca. Mereka harus segera membaca agar segera pulang mengingat sebentar lagi jatah waktu mereka untuk berada di ruangan ini akan segera habis.

Hussein, salah seorang dari mereka yang setia mengantri, berniat baik mengajak Ahza, Alvin dan Danis untuk turun.

“Hey kalian, turun!” sahut Hussein.

Namun, sesaat kemudian, Hussein melakukan aksi yang sama sekali tak pernah kuduga dan bahkan tidak semestinya.

Di bawah etalase, Hussein dengan sengaja menarik paksa kaki Ahza, Alvin dan Danis.

Lalu apa yang terjadi?

GUBRAKKKKKK!!!!!!!!!!!!!
Etalase itu terguling. Bocah-bocah itu otomatis terjatuh.

Sontak aku menjerit melihat kejadian ini.
Refleks, aku menutup mataku dengan kedua tanganku. Aku tak kuasa menghampiri mereka yang terjatuh. Tubuhku gemetar.

Aku menangis, air mataku tumpah. Aku benar-benar panik. Aku benar-benar takut. Takut dengan keselamatan jiwa mereka. “Bagaimana dengan mereka? Mereka pasti terluka, mereka pasti bersimbah darah karena terkena pecahan kaca etalase yang terguling itu, mereka pasti kesakitan... mereka, mereka, mereka, dan mereka”. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Jiwaku terguncang, tidak tenang.

Teman-teman Ahza, Alvin dan Danis juga turut panik. Sebagian dari mereka malah iba melihatku menangis. Ada juga yang saling menyalahkan atas kejadian ini.

Suara tergulingnya etalase itu terdengar sangat keras, terdengar sampai ke luar toko ini. Bang Warna, pedagang gorengan yang berjualan di depan toko, langsung masuk ke toko untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. Lalu setelah Bang Warna mengetahui bahwa ada etalase yang terguling menimpa Ahza, Alvin dan Danis, dengan sigap ia membantu mengangkat etalase tersebut.

Beberapa saat kemudian, aku memberanikan diri untuk menghampiri mereka. Sambil terisak, aku memastikan keadaan mereka.

Alhamdulillah Tuhan teramat baik, ada meja kecil di bawah yang menjadi penyangga sehingga etalase tersebut tak sampai jatuh menyentuh lantai. 3 bocah itu tidak kenapa-kenapa. Tidak ada luka berat. Tidak ada kaca etalase yang pecah. Tidak ada simbahan darah.

Aku mendekap mereka, meminta untuk tidak mengulanginya lagi, meminta semua murid untuk kembali duduk rapi dan melanjutkan kegiatan belajar mengajar.

Selang beberapa menit, Kak Arif seniorku datang.
Semua murid mengondisikan keadaan. Tampak jelas mereka tak ingin Kak Arif tahu atas kekacauan ini. Pun aku, aku menyeka air mataku dengan beberapa helai tissue.
Kegiatan belajar mengajar dilanjutkan, semua terlihat baik-baik saja dan seolah tak pernah terjadi apa-apa.

1 komentar: