Minggu, 13 Januari 2019

Ragam Seni Berdakwah Era Millenial



Setiap mukmin yang sejati dituntut untuk senantiasa berdakwah menyebarluaskan agama Allah. Kewajiban berdakwah bukanlah semata-mata milik para ulama, para kiyai ataupun ustadz tetapi berdakwah itu kewajiban kita semua sebagai khoiru ummah. Meskipun rasulullah sudah wafat pada beberapa abad yang lalu, namun nafas pergerakan dakwah harus terus kita lanjutkan sampai akhir titik kehidupan. 

Pada dasarnya, berdakwah bisa menggunakan berbagai pendekatan. Berdakwah bisa disesuaikan dengan passion kita masing-masing, disesuaikan dengan zaman, disesuaikan dengan kultur umat. Berdakwah tidak melulu harus di atas mimbar, tidak melulu harus bersarung, dan tidak melulu harus berkopiah. Tidak semuanya harus seperti itu, yang terpenting adalah bagaimana esensi dakwah itu tersampaikan.

Menurut Jamil Azzaini, hidayah itu datang dari arah yang tidak disangka-sangka (min haitsu laa yahtasib). Maka, tugas kita adalah menciptakan metode-metode dakwah yang relevan, yang menarik umat untuk senantiasa berbahagia menjemput hidayah-Nya.

Menyoal dakwah, pada hari Sabtu, 12 Januari 2019 saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sebuah seminar bertajuk “The Art of Dakwah” yang merupakan bagian dari rangkaian Festival Trainer Nasional yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Akademi Trainer (IKAAT). Seminar yang digelar di Aula Buya Hamka, Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini membahas berbagai ragam seni berdakwah yang disampaikan oleh narasumber-narasumber luar biasa nan hebat.

1. Berdakwah ala Filmmaker
Industri perfilman merupakan salah satu ragam seni berdakwah yang sangat cocok di era millenial ini. Muthia Zahra Feriani, seorang alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang saat ini menjadi filmmaker creative director QuranIDproject contohnya. Meskipun notabenenya adalah dalam bidang hukum, tapi karena ia mempunyai bakat dalam bidang perfilman, ia berhasil menyuarakan dakwah melalui bakatnya. Salah satu program yang kini dirintis oleh Muthia dan rekan-rekannya adalah ‘Cahaya dalam Sunyi’ yaitu sebuah program pengembangan pendidikan agama Islam yang aksesibel bagi penyandang difabel tuna rungu. Cahaya dalam Sunyi bisa kita akses di https://www.youtube.com/watch?v=4RXXKnRB9J4.

2. Berdakwah ala Motivator
Setiap manusia pasti memiliki masalah dalam kehidupannya. Ada yang pernah terjerat narkoba, korupsi, usahanya bangkrut, terlilit hutang, dan lain sebagainya. Rezha Rendy (founder Pola Pertolongan Allah) mengatakan bahwa Allah memberikan masalah tidak lain agar kita terhindar dari nafsu dunia.

Rezha Rendy membuka kelas motivasi Pola Pertolongan Allah untuk memotivasi dan membantu umat dalam penyelesaian masalah yang dihadapi. Rendy mengatakan bahwa ada 5 Pola Pertolongan Allah yang semua itu intinya adalah kita dari mana? sedang apa? hendak kemana?

3. Berdakwah ala Singspirer
Berdakwah ternyata bisa melalui lantunan-lantunan lagu lho!
Hal inilah yang dilakukan oleh Miss Hiday saat ini. Miss Hiday adalah seorang singspirer yang menginspirasi umat melalui lagu-lagu yang dinyanyikannya. Tentu saja lagu bukan sembarang lagu. Lagu yang dibawakannya adalah lagu-lagu yang liriknya penuh makna, yang bisa membangkitkan semangat umat.

 Sedari kecil Miss Hiday sudah hobi menyanyi. Ia masih ingat betul kala itu ia masih duduk di bangku SMA ia mendapat tawaran bernyanyi dan membuat rekaman album pertamanya di suatu perusahaan musik di tanah air. Namun sehari sebelum rekaman dan tanda tangan kontrak, malamnya entah mengapa ia menangis tersedu-sedu di kamarnya. Ia dilema, takut mati lalu masuk neraka dan saat itu ia belum berhijab. Disinilah ia mendapat hidayah. Ia kemudian meminta restu kepada kedua orangtuanya untuk berhijab. Alhamdulillah, orangtuanya mengijinkan. Alhasil, tanda tangan kontrak antara ia dengan perusahaan musik dibatalkan karena perusahaan musik tersebut tidak menghendaki penyanyi yang berhijab. Walau begitu, naluri Miss Hiday tetap berkata bahwa ia ingin menjadi penyanyi. Ia harus bernyanyi karena bakatnya di bidang menyanyi.
Alhamdulillah, kini Allah mudahkan jalannya untuk berdakwah, melalui jalan yang tak pernah diduga sebelumnya.

4. Berdakwah ala Enterpreneur sekaligus Writer
Selain berdakwah ala filmmaker, motivator, dan singspirer, dakwah juga bisa disebarluaskan oleh seorang enterpreneur ataupun writer seperti Muhammad Assad. Assad adalah pebisnis emas berlabel Tamasia (Tabungan Emas Indonesia) sekaligus penulis best seller buku “Notes from Qatar”. Menurutnya, siapapun kita, apapun profesinya, yang penting kita harus terus menerus dan tetap menciptakan value-value Islam.

Berdakwah itu tugas mulia. Berdakwah itu mendatangkan pahala. Berdakwah bisa menghapus dosa. Oleh karena itu, mari kita mengenali potensi diri kita, mengenali diri sendiri, kemudian berdakwah sesuai bakat dan kemampuan yang kita punya.

Semoga Allah meridhoi setiap langkah baik kita.

Salam pemuda kontributif!

Sumber:
Ringkasan materi seminar yang diiisi oleh Muthia Zahra Feriani (filmmaker creative director QuranIDproject), Rezha Rendy (founder Pola Pertolongan Allah), Miss Hiday (Singspirer), dan M. Assad (Enterpreneur dan penulis “Notes from Qatar” dan buku-buku National best seller).

14 komentar: