![]() |
| Foto: AP/Yang Guanyu |
Sebagian dari kita mungkin udah gak asing dengan frasa “merendah untuk meroket”. Frasa tersebut biasanya disematkan buat orang yang nampaknya ingin bersikap rendah hati atau tawadhu tapi secara tersirat mengakui kehebatan dirinya dalam suatu hal. Tentu ini sifatnya sangat subjektif. Hanya berdasarkan penilaian dari orang yang memberikan label “merendah untuk meroket” kepada seseorang. Karena, sebetulnya wilayah ‘meroket’ itu wilayah hati, yang tak nampak dan hanya Tuhan dan orang tersebut yang tahu.
Berbicara
soal “merendah untuk meroket”, erat kaitannya dengan fenomena di kalangan
masyarakat Timur (termasuk kita) yang seringkali bilang ‘gak bisa’ padahal
sebetulnya ‘bisa’. Fenomena ini biasanya terjadi karena gak mau dianggap sombong
atau takabbur. Sebuah literatur juga menyebutkan mungkin karena merasa minder,
gak berprinsip, gak punya ketegasan dalam bersikap, dan gak berani menampakkan
jati diri yang sebenarnya.
Padahal,
nggak ada salahnya lho mengakui kemampuan yang dimiliki oleh diri sendiri selama
gak disertai rasa pongah, keangkuhan, dan berbangga diri (ujub). Tapi, kalo
memang betul-betul nggak bisa atau nggak mampu, ya harus bilang apa adanya,
berterus terang. Daripada bikin ancur kerjaan atau keadaan hehehehe.
Dahulu,
Nabi Yusuf ditawari jabatan oleh raja Mesir. Nabi Yusuf lantas bilang begini:
“Jadikanlah aku bendaharawan negara Mesir. Sesungguhnya aku adalah orang yang
pandai menjaga lagi berpengetahuan” (QS Yusuf ayat 55). Setelah itu, raja Mesir
mengangkat Nabi Yusuf sebagai menteri logistik yang ngurusin soal pangan di
jagad Mesir. Nah, pertanyaannya, apakah Nabi Yusuf bersikap sombong? Tentu
nggak dong. Nabi Yusuf kan manusia pilihan Allah. Justru disini menjadi sebuah
keteladanan bagi kita, bahwa jika memang kemampuan kita sedang dibutuhkan, ya
kita harus ngaku bahwa kita mampu dan tentunya gak pake rasa pongah, angkuh,
dan ujub. Lagi-lagi, ini wilayah hati.
Ibn
Athaillah juga mengingatkan kita supaya kita gak ngerasa udah tawadhu. Kata
beliau: “Siapa yang merasa dirinya sudah bertawadhu, maka berarti dia telah
benar-benar sombong”. Beliau mendifinisikan tawadhu sebagai orang yang bila
berbuat sesuatu, maka ia merasa dalam kalbunya
(bercermin kepada Allah) bahwa dirinya belum layak mendapatkan kedudukan
tersebut.
Kesimpulannya,
kita harus pandai-pandai merawat hati. Berani mengakui kemampuan yang dimiliki
tanpa terjebak dalam kesombongan. Sehingga, kita bisa terjauhkan dari yang
namanya merendah untuk meroket. Nggak mudah sih ya, tapi kita belajar
pelan-pelan. InsyaAllah bisa. Semoga.
Referensi:
Zaprulkhan. 2016. Belajar
Kearifan Hidup bersama Jalaluddin Rumi dan Sa’di Syirazi. Jakarta: Elex
Media Komputindo.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar