Sabtu, 25 Maret 2023

Review Buku Perempuan yang Mendahului Zaman


Judul                : Perempuan yang Mendahului Zaman: Sebuah Novel Biografi Syekhah Rahmah El Yunusiah
Penulis             : Khairul Jasmi
Penerbit           : Republika
Tahun Terbit   : 2020
Halaman          : xxi, 229 Halaman
ISBN                 : 978-6232-790-89-6

Perjuangan kaum perempuan untuk setara dalam hal akses terhadap pendidikan adalah sebuah jalan yang teramat panjang. Sangat sukar dan berliku, tapi bukan berarti tidak bisa ditaklukkan. Seperti tercermin dalam sebuah kisah perempuan yang diruntut di buku novel biografi yang akan aku ulas.

Buku yang terdiri dari 16 bab ini mengisahkan Rahmah El Yunusiah, perempuan Minang kelahiran tahun 1900 Masehi. Rahmah tumbuh di keluarga yang bernafaskan Islam di Padang Panjang. Meski begitu, lingkungan tempat ia tumbuh masih sangat kental dengan budaya patriarki.

Pada usia 16 tahun, ia dinikahkan dengan seorang ulama tersohor teman abangnya. Ia sendiri dan abangnya terpaut jarak 10 tahun. Berselang 6 tahun semenjak ucap janji suci, mahligai rumah tangganya kandas lantaran perbedaan prinsip hidup. Rahmah teguh pada pendidikan, sementara suaminya lebih condong pada pergerakan atau politik. Mereka bercerai dalam keadaan tidak dianugerahi keturunan.

Tertuang di bab ketiga, Rahmah pada 1 November 1923 M mendirikan sekolah perempuan yang diberi nama "Diniyyah Puteri Padang Panjang". Sekolah ini hadir dari keresahan Rahmah terkait hak mengenyam pendidikan bagi perempuan, yang mana kala itu perempuan-perempuan Minangkabau khususnya, tidak tahu apa-apa. Perempuan hanya boleh di dapur, sumur, kasur.

Panjang perjalanan Rahmah semenjak berdirinya Diniyyah Puteri. Di awal perjuangan, ia terbiasa dengan penolakan dan pertentangan dari sebagian pemuka adat tersebab apa yang diperjuangkannya. Sekolah yang ia rintis pun pernah berkali-kali terkena dampak gempa dahsyat yang meluluhlantakkan tanah Minang. Padahal kala itu sekolahnya sedang tumbuh pesat. Hal ini kemudian yang memaksanya untuk melancong ke berbagai penjuru Sumatera dan juga Malaysia dalam kurun waktu yang cukup lama untuk mencari dana supaya ia bisa membangun lagi sekolahnya.

Rahmah perempuan gagah. Ia turut serta melawan penjajahan Belanda, juga penjajahan Jepang. Bahkan Rahmah pernah menjadi Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) tahun 1945 untuk wilayah Padang Panjang, juga pernah menjadi anggota DPR Sumatera Tengah tahun 1955 untuk menyuarakan pendidikan muslimah dan pendidikan agama.

Rahmah perempuan yang mendahului zaman. Sebab, ia mendahului Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Universitas ini membangun kampus untuk perempuan, bernama Kulliyat Lil Banat, mencontoh apa yang dilakukan Rahmah. Rahmah pun diberi gelar Syekhah, satu-satunya gelar yang diberikan kepada perempuan oleh Universitas Al-Azhar.

           Di bab terakhir, tersirat bahwa Diniyyah Puteri kini semakin berjaya dan menjadi inspirasi dunia.

Kelebihan buku yang memiliki alur maju ini menurutku adalah penegasan yang sangat kuat perihal karakter Rahmah yang membuat kagum. Tergambar dari dialog dan juga penjabaran dari penulis. Selain itu, aku suka di beberapa permulaan bab diberikan penggalan ayat Qur'an yang berkaitan dengan apa yang dibahas di bab tersebut.

Masih menurutku, kekurangan buku ini terletak pada gaya bahasa. Terutama pada bab pertama, gaya bahasa yang digunakan terlalu metaforik. Lain dari pada itu, satu hal yang kiranya membuat bingung adalah terkait kepastian tanggal historis. Misalnya, di bab yang satu, peristiwa X terjadi di tahun Y, sementara di bab yang lain peristiwa X terjadi di tahun Z. Barangkali perbedaan ini terjadi karena perbedaan sumber referensi.

Secara keseluruhan, buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca. Kita bisa banyak belajar dari perjuangan Rahmah, tentang cara ia bangkit, cara ia berdiplomasi, dan segala hal baik lain yang akan ditemukan setelah membaca buku ini. 



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar