Sabtu, 05 Juni 2021

Review Buku Filosofi Teras


Ohallo temen-temen...

Assalamu’alaikum....

Welcome back to my blog <3

Setelah bulan kemarin vacuum, sekarang balik nulis lagi nih. Temanya nggak berat sih, ya biasalah ehehehehe. Kali ini aku mau nge-review buku “Filosofi Teras”.

Sebelumnya aku mau ngasih tahu deskripsi bukunya dulu. Buku “Filosofi Teras” ini ditulis oleh Henry Manampiring, dan Levina Lesmana selaku ilustrator. Diterbitkan pada tahun 2019 oleh Kompas Media Nusantara di Jakarta. ISBN 978-602-412518-9. Jumlah halamannya ada 312 halaman (termasuk halaman daftar pustaka, lampiran, hingga profil penulis).

Flashback ke awal kenapa aku sampe beli dan baca buku ini. Jadi begini...

Sewaktu aku lagi proses nyusun skripsi, aku sempet ngalamin yang namanya stress. Bener-bener ngerasa tertekan banget sama problematika yang aku hadapi kala itu. Lalu aku pikir aku butuh ilmu, butuh bacaan yang bisa ngebantu aku buat ngerasa lebih tenang dan bisa lebih menikmati proses yang sedang aku jalani.

Suatu ketika, pas aku lagi scroll feed instagram, muncul lah postingan salah satu penerbit yang kontennya berisi promosi salah satu buku. Bukunya kira-kira tentang bagaimana cara bertahan hidup di saat benar-benar ingin mengakhiri kehidupan. Larilah aku ke toko hijau, nyari-nyari buku itu. Singkat cerita, aku malah jatuh hati ke buku lain, yang tak lain adalah buku “Filosofi Teras”.  Ah kataku gapapa deh beda bukunya, yang penting buku yang aku pilih ini isinya sesuai sama apa yang lagi aku butuhin.

Oke kembali ke pembahasan.

Filosofi Teras atau stoisisme atau filsafat stoa adalah aliran filsafat Yunani-Romawi kuno yang ngebantu manusia untuk bisa ngatasin emosi negatif yang ada di dalam diri sampe akhirnya terbentuk mental tangguh. Yap! Buku yang terdiri dari dua belas bab ini isinya filsafat. Tapi eh tapiiii, penyajiannya nggak berat. Ringan bangettttt bacanya. Mitos yang beredar kan katanya filsafat itu berat. Tapi filsafat di buku ini bahkan seolah tak tersirat sama sekali.

Inti dari filsafat stoa adalah dikotomi kendali. Apa itu? Jadi, di dalam hidup ini ada hal yang bisa kita kendalikan, yaitu pertimbangan, opini atau persepsi, keinginan, juga tujuan kita. Dan ada hal yang tidak bisa kita kendalikan. Di antaranya adalah opini orang lain terhadap kita. Nah supaya kita bisa tenang, bisa lebih bahagia, kuncinya adalah berada dalam diri kita. Karena kebahagiaan sejati hanya bisa datang dari apa yang berada di bawah kendali kita. Nggak bisa tuh kita memaksakan hal-hal yang di luar kendali kita untuk bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Oh iya, di buku ini juga dibahas mengenai parenting, kematian, dan kemanusiaan dilihat dari sudut pandang filsafat stoa. Buku ini juga gak ngebosenin karena ada tambahan ilustrasi yang bagus banget dan di setiap quotes tulisannya dikasih background tosca. Hanya saja, yang aku kurang suka adalah perataan paragrafnya (tapi it’s okey lah gak masalah karena kalau ini kan soal selera).

Setelah aku selesai baca, aku nyoba nerapin ilmunya ke dalam kehidupan aku. Sekarang, i feel better. Perihal permasalahan skripsiku pun aku lebih enjoy. Stressku perlahan berkurang. Ya itu tadi. Aku mengendalikan apa yang bisa aku kendalikan, pikiranku. Aku gak bisa keukeuh atas apa yang di luar kendaliku agar sesuai dengan yang aku mau. Gak bisa.

Pada akhirnya, aku hanya bisa merekomendasikan temen-temen yang butuh energi positif, yang butuh ‘teman’ di saat menghadapi kesulitan, untuk membaca buku ini.

Sekian dari aku. Semoga membantu.

Wassalamu’alaikum wr. wb...

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya ya <3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar