Membaca adalah perintah pertama yang diwahyukan oleh Tuhan semesta alam. Perintah itu turun kepada manusia termulia Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wa sallam melalui perantara malaikat Jibril di Gua Tsur, Makkah. Tersirat dalam kitab suci Al-Qur’an surat Al-’Alaq ayat 1, Tuhan memerintahkan manusia agar senantiasa gemar membaca.
Hidup tanpa ilmu, gelap sudah. Bagaimana ilmu bisa kita dapatkan tanpa membaca? Bagaimana ilmu bisa dikembangkan jika minat baca rendah?
Menyoal minat baca adalah menyoal literasi. Tingkat literasi di Indonesia tercatat masih rendah, tertinggal jauh oleh negara-negara lain yang sadar dan peduli terhadap pentingnya literasi. Berkaca pada hasil penelitian tahun 2016 yang dilakukan Central Connecticut State University dan tercatat dalam data World’s Most Literate Nations (WMLN), minat baca Indonesia berada di urutan ke-60 dari 61 negara yang diteliti.
Atas dasar kepedulian terhadap literasi, sekelompok pemuda pemudi bangsa, mahasiswa jurusan Ilmu Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang tergabung dalam komunitas Bhinneka Tunggal Baca, menggaungkan literasi di Gunung Slamet. Kegiatan ini mereka laksanakan pada hari sabtu, 20 Oktober 2018. Mereka membuka lapak buku untuk dibaca secara gratis bagi siapa saja para pendaki Gunung Slamet yang ingin membacanya. Buku-buku itu mereka bawa sendiri, tak mudah memang, butuh perjuangan agar bisa sampai di tempat tujuan. Beranggotakan 10 orang, masing-masing mereka membawa sedikitnya 20 buku. Dengan niat dan tekad yang kuat, mereka akhirnya mampu melewati medan perjalanan yang terjal dan jarak yang lumayan jauh padahal diri mereka masing-masing pun sudah membawa perlengkapan pribadi yang bebannya sudah sangat berat.
Fahdrizal Muftin Aryatama selaku penggiat literasi Komunitas Bhinneka Tunggal Baca menerangkan bahwa kegiatan macam ini adalah baru pertama kali mereka laksanakan. Mereka pun sadar bahwa memang cukup sulit jika ingin melakukan kegiatan ini secara terus menerus di alam terbuka, terutama di puncak gunung. Meski begitu, mereka tidak serta merta akan menghentikan kegiatan semacam ini mengingat respon yang mereka dapatkan dari masyarakat juga sangat bagus dan diapresiasi dengan baik terutama oleh warganet di media sosial.
Program buka lapak di puncak gunung ini adalah sebuah inovasi terbarukan sekaligus metode baru untuk mengajak masyarakat pendaki gunung lebih meningkatkan minat bacanya. Membaca termasuk kegiatan yang tidak terikat ruang dan waktu. Meskipun sedang di puncak gunung, tetapi jika sudah cinta terhadap dunia literasi, tidak akan ada alasan untuk ia tidak membaca buku.
Inovasi-inovasi semacam ini harus kita tiru, tapi tak harus sama. Membaca terkadang memang menjadi sesuatu yang membosankan bagi beberapa orang. Karenanya, inovasi dan ide-ide baru untuk meningkatkan mood baca lebih baik itu sangat diperlukan.
Sumber: fah.uinjkt.ac.id

Maa syaa Allah ✨
BalasHapus👍
BalasHapus👍
BalasHapus